Takahara Gee atau Takahara Ji melangkahkan kakinya ke gedung sekolah yang mewah itu dengan gemetar.
Tuhan! Aku tak dapat bernapas!
Ini sekolah impiannya selama ia tinggal di Indonesia dan ternyata ketika ibunya menikahi pria Jepang bernama Takahara Aoi, ia diijinkan mengambil beasiswa di sini, di Horikoshi Gakuen!
“Bernapaslah dengan baik, Gee!” perintah Gee dalam hati.
Ia tersenyum ketika melihat pemandangan di sekitarnya, sesekali daun-daun berguguran di atas punggung dan rambutnya, membuatnya agak tidak nyaman, tapi kenapa harus tidak nyaman jika sudah di sini?
Ketika ia sudah sampai di lorong SMA itu, ia dapat melihat beberapa murid-murid SMA, baik perempuan maupun laki-laki, yang sedang berbincang-bincang, tapi kemudian, pandangan mereka beralih pada Gee yang sedang berjalan di lorong itu.
Gee merasakan pandangan aneh itu, tapi ia malah balik mengerutkan dahi. Anak-anak di SMA ini memakai perhiasan yang terlalu berlebihan, rambut mereka juga ditata seperti ingin pergi ke mall, rok kotak-kotak mereka rata-rata pendeknya hanya sampai ke paha, dan mereka memakai vest dengan berbagai macam warna, baru setelah itu dibalut jaket khas Horikoshi Gakuen.
Penampilan anak-anak ini, kalau dipikir-pikir sama sekali berbeda dengan Gee yang memakai pakaian ala kadarnya. Tak ada perhiasan, hanya ada jam tangan yang melingkari tangan kirinya, rambutnya pun digerai begitu saja, rok kotak-kotaknya tidak begitu pendek sekali, dan ia juga sudah cukup bangga dengan jaket khas Horikoshi Gakuen, tanpa harus ditambah vest lagi.
-------
Kemudian, Gee mulai merasa tidak dapat bernapas sekali lagi.
“Aku ingat dia! Personel Hey!Say!7 Nakajima Yuto!” teriak Gee dalam hati, ia mencoba memudahkan dirinya sendiri untuk bernapas. Pokoknya, ketika kau pertama kali berada di Horikoshi Gakuen yang perlu kau lakukan hanya memudahkan dirimu untuk bernapas.
Tapi, Nakajima Yuto juga memandanginya dengan aneh, bahkan orang itu memiringkan kepalanya sampai 90 derajat, sebelum akhirnya membuat Gee benar-benar tak bisa bernapas. Pengumuman semuanya! NAKAJIMA YUTO SEDANG BERADA TEPAT DI HADAPAN WAJAH GADIS INDONESIA BERNAMA GEE!
“Kau salah masuk gedung?” tanya Yuto tiba-tiba, sangat mengejutkan Gee.
"Aku? Aku—“ gagap Gee, ia tak bisa bicara, otaknya seakan tak bisa merangkai sebuah kalimat untuk menghadapi Nakajima Yuto, ia tak bisa berbahasa Jepang dengan baik, sekalipun bisa, ia hanya bisa mendengarkan apa yang orang-orang bicarakan.
“Aku di sini. Aku bersekolah di Horikoshi Gakuen.”
Tapi, Yuto mengernyitkan alis, “Ya—Ya—Aku tahu kau ini bersekolah di sini. Tapi kau masuk kelas mana?”
“Namaku Takahara Gee. Aku bukan selebritis Jepang.” jawab Gee dengan gagapnya dan dengan bahasa Jepang yang sangat kaku.
Semakin lama wajah itu semakin dekat dengan wajah Gee.
“Lalu apa yang membuatmu berani berada di sini?” tanya Yuto.
“Aku—“
"PERGI!!!” teriak orang itu tiba-tiba. Menggetarkan Gee dan orang-orang di sekitarnya. Dengan lengannya yang kokoh, ia mencengkram lengan Gee dan mendorong Gee hingga jatuh ke lantai.
Kemudian sepasang tangan mendarat di kedua lengan Gee yang tersungkur di lantai, tak perlu Gee menoleh karena sesaat kemudian Nakajima Yuto menyipitkan matanya sendiri dan berkata,
“Morimoto Ryutaro?“
Sepasang tangan itu mengangkat Gee hingga berdiri kembali, Gee tak berani menoleh, ia diam saja, dan kakinya bergetar hebat.
“Mau jadi pahlawan ketika pertama kali masuk sekolah?” tanya Yuto sinis pada Ryu.
“Kau juga,” balas Ryu pada Yuto “Mau jadi berandalan ketika pertama kali masuk sekolah?”
Tapi di suara Ryu tadi sama sekali tidak ia temukan ketidaksenangan maupun kesinisan, yang terdengar hanya suara datar dan tenang sekali.
“Kau lebih baik kembali pada Yama-chan—“ kata Ryu.
“Ia mencarimu, bersama Shida Mirai di sampingnya—“
Kemudian, Yuto hanya tersenyum tidak menyenangkan dan berlalu dari sana.
-------
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ryu pada Gee yang kelihatan masih sangat terguncang.
“Aku—“ Sekali lagi ia tak dapat bicara.
Setelah menyadari guncangan yang dihadapi gadis ini, Ryu kemudian mencengkram lengan gadis ini kuat-kuat.
“Aku akan mengantarmu.” kata Ryu sambil menyeret Gee dengan hati-hati.
“Aku—bahasa Jepangku belum begitu lancar—“ kata Gee dalam bahasa Jepang yang ala kadarnya ketika dalam perjalanan entah ke mana itu.
“Aku pikir kau akrab dengan Yuto—“ kata Gee terus terang.
“Memang—“ jawab Ryu datar. “Tapi, kadang-kadang kita berbeda pendapat—“
Gee mengangguk-ngangguk. “Terima kasih tadi—“
Sesaat tak ada jawaban, “Bahasa Jepangmu memang kacau. Grammar-mu—Kacau sekali.”
Gee langsung terkesiap mendengar perkataan Ryu yang sangat terus terang itu. Gee berhenti sesaat dan menoleh kearah cowok ini.
“Sebenarnya, Anda mau membawa saya ke mana?” tanya Gee.
“Nah, kita sudah sampai.” kata Ryu dengan senyum di wajahnya.
“Pembatas transparan ini.”lanjut Ryu sambil melepaskan cengkramannya pada lengan Gee. “Yang membatasi dunia kami dengan duniamu.”
“Sana—“ perintah Ryu sambil melambaikan tangan pada Gee, seakan ingin melepaskan kepergian seseorang ke tempat yang sangat jauh.
“Dunia kita berbeda.” kata Ryu sambil berusaha mengintip keadaan di balik punggung Gee.
Ia dapat melihat orang-orang dari kelas orang-orang jenius tapi tak punya status sosial apa-apa itu memandang heran pada Ryu, ada yang memandang iri pada gadis ini, ada juga yang memandang sinis.
“Ketika kau masuk dunia kami, semua orang menatapmu dengan aneh.” lanjut Ryu. “Tapi, kalau aku masuk ke duniamu, semua orang akan menatapku dengan benci.”
“Selamat tinggal..“
“T-A-K-A-H-A-R-A-G-E-E” jawab Gee cepat-cepat.
“Bye, Gee.” ucap Ryu dalam senyumnya.“Kalau bosan, kau boleh bermain ke duniaku. Asal tidak ketahuan orang saja. Aku menerimamu, kok—“
Sekali lagi, Morimoto Ryuutarou melambaikan tangan dengan senyumnya, lalu pergi begitu saja.
-------
Takahara Gee sekarang sedang berada di kantin Horikoshi Gakuen yang sangat megah bersama dengan freshman lainnya. Di mana pun ia sekarang ini, ia yakin ia sedang berada di planet yang jauh dari planet yang ia tempati.
Yamada Ryosuke adalah idolanya dan ia sudah merasa bodoh sekali karena tidak menyuruh Morimoto Ryutaro menyampaikan salamnya untuk Yama-chan. Ah, bodoh!!!
“Yama-chan!” teriak seseorang di belakang Gee. Gee segera menoleh ke belakang. Astaga, Nakajima Yuto!
“Aku menemukan perempuan tadi.” kata Yuto sekali lagi. Gee kemudian mencari-cari orang yang diajak bicara oleh Yuto tadi, dan tertangkaplah di matanya seorang lelaki dengan wajah yang super tampan dan rambut agak acak-acakkan, ia memakai seragam khas Horikoshi Gakuen.
Kemudian lelaki tampan itu mendekat ke meja Gee.
Gee tak dapat menyembunyikan senyumnya ketika personel Hey!Say! 7 itu menuju ke arahnya. Yamada Ryosuke sedang tersenyum ke arahnya! Mama, aku bersyukur sekali telah bersekolah di sini!
Tapi, jika diperhatikan senyuman itu kelihatan sangat aneh, seperti senyuman mengejek. Sesampainya di meja Gee, Yamada Ryosuke segera mendekatkan wajahnya pada Gee.
Tuhan!
-------
Tapi sebelah tangan Yamada bergerak, dan gerakan itu menyebabkan bunyi yang sangat tidak professional. Gee menutup matanya terang-terangan ketika mendengar bunyi meja yang dipukul dengan kasar itu.
“Siapa kau?” tanya Yamada Ryosuke dengan suara yang sangat dingin dan senyum yang mengejek.
“Aku—“ gagap Gee, keringatnya mulai bercucuran di sekitar tubuhnya. Ia ingin pingsan sekarang juga.
Setelah mendapatkan kelakuan mengejutkan dari Nakajima Yuto, kenapa sekarang harus dari Yama-chan?
“Takahara Gee—“ ucap Gee pada akhirnya, ia sekarang menunduk dan tak berani menatap mata itu lagi.
“T-A-K-A-H-A-R-A-J-I???” ulang Yamada dengan nada jijik.
“Nama aneh apa itu? Aku tak pernah dengan seseorang dengan nama Ji dan nama keluarga Takahara.”
Gee ingin protes. Namanya bukan Takahara Ji. Tapi, boro-boro protes, mengangkat wajahnya saja ia tak berani. Lelaki ini telah membuatnya tak berani berkutik.
“Kau seharusnya juga sadar dengan penampilanmu. Berani-beraninya kau masuk kelas untuk kami.” kata Yama lagi dengan suara dingin tak berperasaannya lagi.
“Hei!” seru Yamada menggelegar hingga satu kantin itu tambah terkesiap.
“Kalian yang dari tadi melihat saja! Pantaskah dia masuk ke kelas di mana aku dan para personel Hey!Say!7 berada?”
Satu kantin itu spontan menggeleng, tak berani macam-macam, sekalipun sebenarnya Yama bukanlah seniornya, ia hanya seorang freshman yang kebetulan saja mempunyai status sosial yang luar biasa.
“Oke. Berarti apa yang harus aku lakukan?” tanya Yamada sekali lagi pada seluruh orang yang ada di kantin itu.
Tapi kantin itu terdiam, tak ada yang berani mengeluarkan suara.
“Yama-chan, kau memang mau melakukan apa terhadap gadis ini?”
Gee tahu persis itu suara Nakajima Yuto.
“Aku sih jujur tak tertarik untuk berbuat macam-macam, wajahnya bukan seperti orang Jepang, tidak original.”
Kemudian, masih dalam wajah yang tertunduk dalam-dalam terdengaran seruan marah dari seorang gadis.
“KAU! NAKAJIMA YUTO! MAU KUBUNUH, YA?”
“Shida—“ suara Yamada terdengar lagi.
“Panggil seluruh personel Hey!Say!7”
-------
Ternyata gadis itu Shida Mirai. Gosip tentang kedekatan Shida dengan personel Hey! Say! 7 memang sudah terdengar dari dulu. Shida sudah terlihat akrab dengan personel Hey!Say!7, terutama Yamada Ryosuke sampai-sampai Yamada digosipkan menyukainya di sebuah majalah Jepang bernama ‘Myojo’. Tapi sekarang itu nampaknya tak penting lagi, setelah bisa keluar hidup-hidup dari sekolah ini, ia akan membuang semua majalah Jepang itu.
“Tadi aku lihat Ryu sedang main otello dengan Chinen.” jawab suara Shida.
“Keito juga sedang main video game—“
“Untuk apa panggil Ryu?” tanya Yuto tiba-tiba.
“Dia pasti akan membela perempuan ini. Ketika berumur 20 nanti perempuan ini mungkin akan jadi calon kuat untuk menjadi pacarnya.”
Gee terkejut. Secara spontan, ia mengangkat wajahnya. Tatapan matanya bertemu dengan Yamada langsung.
“Tipe Ryu sekali.” cibir Yamada terang-terangan.
“Shida!! Jangan panggil Ryu!! Aku tak mau melihat aksinya yang memuakkan sebagai usahanya melindungi gadis ini!!”
“Hey, kau punya susu sisa?” tanya Yamada tanpa mengalihkan perhatiannya pada Gee. Tapi tangannya terulur ke samping.
“Ada.” kata Shida dengan antusias, dan memberikan sebotol susu coklat pada tangan Yamada yang terbuka.
Mata Gee terbelalak lebar melihat gerakan tangan Yamada yang perlahan membuka tutup botol itu dan menjauhkan dirinya dari wajah Gee.
“Kau mau apa, YAMADA-SAN?! “ tanya Gee tiba-tiba.
“Ryu suka tipe perempuan yang manis.” kata Yamada sambil tersenyum licik. “Kalau aku memberikanmu ini, kau akan tambah manis. Dengan begitu Ryu akan menyukaimu.”
Gee menutup matanya rapat-rapat.
Sial! Aku sial sekali hari ini! Pertama kali malah dikerjai sesama freshman!
BYUR!!!
-------
Gee dapat mendengar suara susu yang disiram ke wajahnya. Ia dapat merasakan rasa manis di mulutnya sendiri. Dan ketika membuka mata terlihat wajah seorang Yamada Ryosuke yang sedang tersenyum puas.
“Kau benar-benar manis sekarang.” kata Yama. Ia sekarang tersenyum bersama Shida Mirai di sampingnya.
Seharusnya wajahnya berwarna merah padam, tapi susu coklat itu menghalangi pandangan orang-orang. Sekarang terdengar suara tawa riuh dari seluruh kantin itu.
Gee merasakan sesuatu yang lebih hangat dari susu coklat di wajahnya itu, air matanya—
Suara tawa itu. Yamada Ryosuke yang ternyata hanya begini adanya. Dan… Tak adanya seorang pun yang mau menolongnya.
Semua itu membuat air mata itu tambah deras.
“YAMA-CHAN!” teriak seseorang, tapi Gee tidak mengangkat wajahnya sama sekali.
“Chii, bawa perempuan itu.” perintah suara itu lagi.
“Tapi, Ryu-kun! Dia kotor sekali!” protes suara lainnya.
“Chinen!!” bentak suara yang satu.
-------
Gee masih tak berani mengangkat wajahnya, tapi kemudian sepasang tangan dengan enggan mengangkatnya dari tempatnya duduk sekarang. Kemudian, Gee merasakan sentuhan dari tangan seseorang lagi. Gee tak berani menoleh, ia hanya memejamkan mata dan menelan ludah mentah-mentah.
“Kau tidak apa-apa?” tanya suara orang di belakangnya.
Tapi suara Gee seakan tak bisa keluar.
“Hei, Keito-kun! Gadis ini kuserahkan padamu, ya!” seru suara orang yang mengangkatnya tadi.
“Aku takut Ryu dan Yama-chan bertengkar lagi.”
“Iya, sana! Aku juga takut mereka tiba-tiba berkelahi!” seru suara yang satu lagi.
“Kau harus cepat-cepat membersihkan diri. Ryu tadi kelihatan sangat khawatir dengan keadaanmu.” kata suara itu lagi, ia akhirnya menyadari kalau itu adalah suara Okamoto Keito.
“Saya—“ ucap Gee lemas.
“Bisa melakukannya sendiri.”
Gee kemudian melepaskan tangan yang menopangnya itu dan berlari ke toilet dengan susu coklat yang menetes ke mana-mana. Gee bersumpah. Seumur hidupnya, ia akan membenci semua personel Hey!Say!7 itu. Semuanya, tanpa kecuali. Semuanya, termasuk Yamada Ryosuke.