HEY THERE, WORLD! :]
Background
  • BLOG



        Archive :


    Hey! Say! Friend, Chapter 5 : Ryu/Ryo?

    Monday, June 7, 2010 / 6:40 PM






    “Hika-chan..”
    “Hai?” Hikari berbalik. Padahal tanpa berbalik pun ia tahu siapa yang memanggilnya. Sering berada di JOHNNY’S CLUB dan syuting selama hampir 3 bulan, hafal dengan panggilan itu.
    Siapa lagi kalau bukan Mia-san? Si menor piñata rias wajah itu? Mia-san selalu memanggil Hikari, Riku dan Yamada berbeda.
    “Mika”, “Hisa”, dan “Ryo”. Jadi, Hikari hafal suara itu.
    “Sudah dapat undangannya?”
    “Undangan?”
    “Hisa-chan, atau Ryo-chan belum memberikannya padamu?”
    Hikari menggeleng, “Belum..”
    “Baiklah, ini. Berikan untuk Hisa-chan juga. Ini undangan untuk pesta yang akan diadakan JOHNNY di akhir syuting kalian. 10 personel Hey!Say!JUMP diundang. Kalian berdua juga, tentunya.”
    “Hmm..” Hikari mengangguk.
    “Couple. Berdua. Kau bisa memilih salah satu dari 10 boys, personel Hey!Say!, manis. Ku dengar, kau dekat dengan Ryu-chan, dan Ryo-chan?”
    Wajah Hikari bersemu merah. Kenapa harus COUPLE??!
    “Yah, kau bisa memilih, manis. Dresscode-nya, mohon yang formal saja. Dan hanya Black and White. Katakan pada Hisa-chan, diharapkan pakai ‘dress’ . Itu saja manis. Matta aimasho.” Mia tersenyum, entah Hikari masih sering bergidik jika melihat senyuman Mia.
    ‘Couple? Formal Dress? Di pantai? Hey!Say!JUMP? Mereka bersepuluh? Argh!’ Tanpa sadar Hikari meremas-remas undangannya. Untung saja tidak sampai lecek. Hikari memutuskan untuk mencari Riku.
    -------
    “Riku-chan,”
    “Hei. Ada apa?”
    Yamada menarik Riku ke ujung koridor.
    “Ada apa sihh?!”
    “Sst.. Aku sudah mengirimnya.”
    “Oh, sweet! Ya sudah, good luck.” Riku tersenyum, lalu berjalan. Yamada mengikuti disampingnya.
    “Apa lagi? Bertanya, apakah ia akan menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, heh?”
    “Hm, menurutmu?”
    “Yama-chan, kau itu idolanya, oke? Tapi, itu.. Oh, entahlah. Tunggu saja. Aku mendukung kok.” Riku tersenyum lagi. Dan Yamada membalas senyuman Riku.
    “Kalau ia menolak, kau saja oke?”
    “Kalau soal yang terakhir, aku tidak janji.”
    “Hai. Arigatou. Sayonara.” Yamada melambai lalu berbalik pergi. Riku pun kembali berjalan di koridor sampai..
    “Riku-chan..”
    “Ryu-kun, ada apa?”
    “Aku sudah bertanya padanya.”
    “LANGSUNG?!”
    “Tidak, lewat message di HSF.”
    “Okay, semoga beruntung!”
    “Arigato. Bagaimana menurutmu?”
    “Kalau aku berikan pendapatku, kau berikan anjingmu, ya? Bagaimana, Ryu-kun?” Riku tersenyum iseng.
    “Tidak!”
    “Bercanda, kok. Menurukku, kau itu idolanya. Tapi, aku tidak tahu oke?”
    “Arigato. Kalau ia menolak, aku ingin mengajakmu. Mau kah?”
    Riku mendesah pelan. “Aku tidak janji, manis.”
    “Arigato. Sayonara. Sekali lagi, arigato!!” Ryu melambai lalu berlari. Riku berhenti berjalan. Lemas. Kenapa begini? Desahnya pelan.
    -------
    Hikari membuka situs HSF. Riku, seperti biasa, terbenam dibalik komik Yagami Chitose terbaru yang dipinjamnya dari Hikari. Riku sedang berasa di rumah Hikari sekarang. Dikamar, tepatnya.
    Setelah perang Nitendo DS selama hampir 1,5 jam, akhirnya mereka menyerah juga. Dan jadilah Riku membaca sedangkan Hikari membuka situs HSF.
    “Aku tahu namamu DeathNote.” celetuk Riku dibalik komiknya.
    “Kenapa kau tahu?” Hikari menoleh, cemberut.
    “Pertama, ingatlah, kau itu nge-fans berat sama “L Lawliet” sebelum “Hey!Say!JUMP”. Kedua, DeathNote tidak pernah menanyakan sesuatu padaku!!”
    Hikari tertawa. “Yah.. pintar juga kau. Siapa namamu?”
    “Spiral.”
    “Kenapa kau beritahu?”
    “Karena kau bertanya.” jawab Riku cuek.
    “Dasar aneh..”
    “Yah, memang tak ada ruginyakan kau tahu? Yang penting One Piece dan D’conan tidak diketahui identitasnya. Antara Yamada atau Ryutaro.”
    “Hm, ya juga sih. Kau benar.”
    Riku kembali asyik membaca. Jadi, Hikari membuka situsnya. Banyak comment-comment baru, yang tetap konyol, lucu, dan, ada 2 e-mail baru?
    Hikari memutuskan untuk membuka satu diantaranya.

    Hey, Hika-chan,
    Kau tentu tahu tentang undangan JOHNNY’S party kan?
    Dan, tentu kau juga tahu persyaratan couplenya..
    Hmm, maukah kau datang bersamaku? Eh, kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok. Aku tidak memaksamu.
    Dan kalau tidak mau, jangan merasa sungkan. Katakana saja. Doshite? Arigatou! ^__^
    From : Ryo-chan

    Hikari bergeming. Yamada mengajaknya?! Yamada Ryosuke ?! Hikari membaca e-mail selanjutnya.

    Hika-chan!!!
    Hm, sebenarnya aku bingung ingin bicara apa, tapi, cobalah aku buat sederhana.
    Entah kenapa, tapi, aku senang melihat kau tersenyum.
    Dan, aku juga senang jika kau bersamaku.
    Aku ingin mengajakmu ke JOHNNY’S PARTY bersamaku.
    Tapi, jika kau keberatan, itu tidak masalah! Jangan merasa tidak enak denganku. Doshite?
    SAYONARA ^^
    From : Ryutaro

    Kali ini Hikari benar-benar merasa dunia telah kiamat! Ryosuke dan Ryutaro mengajaknya ke pesta?! Bagaimana ini?! Mendadak dalam hitungan detik, semua terasa jelas. Hikari ingat jelas pertanyaan Riku. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang terlontar dari mulut Riku. Alasan-alasan mengapa Riku bertanya aneh terasa sangat jelas.
    “Riku-chan, kau..”
    Riku menurunkan komiknya, menutupnya. Ia berjalan kea rah Hikari, dan duduk disebelahnya.
    “Sebenarnya, aku telah memberimu 3 hari untuk memikirkannya. Aku yang menjadi tempat curhat mereka sejak 3 minggu lalu. Dan jujur, aku tidak tega menyakiti mereka berdua. Entah kenapa, tapi, sejak kita memiliki HSF, rasanya mereka telah menjadi bagian dari hidupku. Sahabatku..” ujar Riku.
    Hikari menatap mata sahabatnya yang berwarna coklat tua kehitaman.
    “Lalu bagaimana ini?” tanya Hikari, lirih.
    “Hika-chan, mereka berdua tidak tahu soal ini. Mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki tujuan yang sama. Jadi, semua itu, terserah kau..”
    “Kalau kau berada di posisiku?”
    “Hika-chan, aku telah menjawabnya bukan? Aku tidak akan tega melukai salah seorang dari mereka, sungguh. Tapi, posisiku tidak lebih mudah darimu Hika-chan, karena jika kau menolak mereka, mereka akan mengajakku.” kali ini Hikari mendengar nada lirih di suara Riku.
    “Satu hal yang penting, aku tak akan mau membuat mereka bertengkar, melihat mereka bertengkar sungguhan.. Entahlah..” ujar Riku lagi.
    Kali ini Hikari yakin, semua jawaban ada di tangannya.
    -------
    Pukul 2 dini hari, Hikari terbangun dari tidurnya, atau memang sedari tadi ia tidak bisa tidur, ia juga tidak tahu jelas. Yang ia tahu, ingatannya tak bias berhenti berputar.

    “Yamada Ryosuke, apakah kau sungguh menyukai Shida Mirai?”

    Hikari teringat pertanyaan pertamanya di situs HSF yang tak akan pernah ia lupakan. Dan jawaban pertama dari Yamada yang juga nggak akan dilupakannya..  

    “Untuk DeathNote, *kalau ini Ryu, akan aku bunuh kau besok! Berani bertanya seperti ini padaku!!* . Sebenarnya, itu gossip yang berlebihan.
    Tapi, pada dasarnya wartawan entertainment itu memang menjengkelkan. Sungguh. Kami digossipkan seperti itu karena Tantei Gakuen Q tahu! Dia itu lawan mainku yang pertama.
    Jadi, kami memang cukup dekat saat syuting. Tapi, apakah kedekatan itu harus selamanya saling suka? Tidakkan?!”

    Hikari tertawa kecil mengingat jawaban itu. Yamada benar juga. Temankan tidak masalah. Kalau dipikir lagi juga dia dan Riku sekarang dekat dengan Ryutaro dan Yamada.
    Hikari tidak tega menolak satu diantara mereka! Sungguh, deh. Tidak akan sanggup!
    Hikari berdiri dari ranjangnya. Merasa mual. Tapi, ia membuka situs HSF dengan berat. Kembali ia mencermati e-mail itu perlahan. Lalu membalasnya.
    -------
    “Riku, chan!”
    Riku menoleh, dan rasanya ia ingin lenyap sekarang juga. Yamada berjalanke arah Riku, tersenyum.
    “Hai, naze?”
    “Dia.. Sudah membalasnya..”
    “Apa kataya?” jujur Riku juga penasaran.
    “Dia bilang, dia tidak bisa pergi bersamaku karena ada hal penting yang tak dapat ia katakana padaku.” Yamada menatap Riku, sedikit memelas tapi memaksa.
    Seperti tatapannya di Hidarime Tantei EYE saat Ainosuke memaksa Sayama-sensei untuk berjanji satu hal padanya.
    “Lalu? Hey, jangan menatapku seperti itu.”
    “Kurasa kau tahu segalanya. Ya kan?”
    Riku tersedak teh green-tea yang sedang diminumnya. Sampai ia terbatuk parah.
    “Em.. Apakah kau baik-baik saja?” Yamada menepuk punggung Riku pelan.
    “Yeah, aku baik.” jawab Riku setelah dapat mengendalikan batuknya. Riku menatap Yamada.
    Apa yang harus dikatakannya? ‘ ia sendiri kurang yakin.
    “Aku tidak bisa mengatakannya.. Oke?”
    “Hm, oke.”
    “Aku punya usul. Mungkin kau bisa mendandani Chinen atau Ryu, dan mengajak mereka pergi bersama.” Riku tersenyum iseng.
    Dan Yamada tertawa kecil. “Atau mungkin kau saja yang jadi ceweknya! Kau itu paling manis, tau!”
    Yamada tertawa lagi. “Hai. Arigatou atas usulnya. Entah itu sindiran atau pujian, tapi, arigatou.”
    “Itu kenyataan! Mungkin kau bisa mengajak Mia-san.”
    “Tidak tidak. Aku lebih setuju yang pertama.”
    Riku berhenti berjalan, menghadap Yamada.
    “Yama-chan, yurushi. Dengan alasan yang sama seperti Hikari, aku juga tidak bias pergi denganmu. Yurushite kudasai.”
    “Hai. Tidak masalah. Lagi pula aku tahu kau akan bicara seperti itu.” Yamada tersenyum. “Aku pergi dulu ya. Sayonara. Hm, arigatou juga.” Yamada melambai.
    “Do itashimashite. Sayonara.”
    Riku menyandarkan diri ke tembok disebelahnya, berpikir. Hikari menolak Yamada apakah berarti.. Ia memilih Ryu?
    “Riku-chan, kau kenapa?”
    Riku terkejut, mendapati Ryutaro tengah berdiri dihadapannya.
    “Ada apa?” tanya Riku melihat senyum cerah diwajah Ryu. Apakah senyuman itu artinya..
    -------

    Labels:







  • ME

    Gabriela Maria Quincy


    1997. INDONESIA. FANGIRL. SANURIANS.
    Girl. Gabriela Maria Quincy. Indonesian-Chinese. 27/09/1997. AB. Proud to Be.

    Facebook     • Tumblr     • Twitter    

  • TAGBOARD