HEY THERE, WORLD! :]
Background
  • BLOG



        Archive :


    Hey! Say! Friend, Chapter 1 : H!S!7

    Wednesday, May 19, 2010 / 6:49 PM





    Semua bermula disana.. Di negeri sakura yang asri ini, di negeri yang dikelilingi lautan luas lepas yang indah itu. Saat ini musim semi sedang menyelimuti Jepang. Itu berarti cuaca indah sedang datang di negeri itu. Tak terkecuali di ibu kotanya, Tokyo. Suasana sibuk yang khas terbayang disore hari ini.
    “Hika-chan! Lebih lama lagi kau berdiri disana untuk memandang majalah poster HEY!SAY!7, ku tinggal!! Sayonara!” teriak Riku.
    “Stt!! Ya, Riku-chan. Sudah tidak. Ayo..” kata Hikari.
    “Lebih baik kau membelinya, daripada kau tak rela meletakkannya kembali.” sahut Riku kesal.
    “Hmm, besok.” jawab Hikari.
    “Atau tak usah.” Riku menarik Hikari keluar dari toko buku itu.
    “Riku-chan!! Besok kembali..”
    “Hmm..”
    “Riku-chan..”
    “Hmmm!”
    “Riku-chan!”
    “Haaaaaiiiii!!!”
    -------
    Hikari. Mikano Hikari, dan Riku. Hisahi Riku. Mereka sahabat sempurna. Sejak kecil rumah mereka selalu berdekatan, tak pernah berpisah. SD bersama, SMP bersama, bahkan bertujuan untuk masuk SMA yang sama pula. Tentu dengan jalur prestasi. Hikari dan Riku adalah murid teladan yang jenius. Mereka bahkan di terima masuk di Horikoshi Gakuen yang elit itu.
    Prestasi mereka memang nggak tanggung-tanggung. Dengan SMP tanpa ujian juga melewati kelas 7 dan 8 dalam 1 tahun ajaran. Dan sekarang, siapa yang nggak bermimpi untuk masuk sekolah terelit dan terfavorit di Jepang?
    “Menyesal diterima disini?” tanya Riku pada Hikari.
    Hikari meloncat kaget mendengar suara itu, dan tepukan keras dibahunya.
    “Yah.. Ya dan tidak juga. Tidak, karena ini impianku sejak SMP, dan ya karena.. Kau tahu..” Hikari melirik sahabatnya itu.
    “Oh, ayolah, kita tak bias mundur lagi kan? Ingat saja kenapa aku mau masuk kesini. Itu semua karena kau yang memaksaku untuk menemanimu bertemu dengan mereka, kan?” jawab Riku.
    “Hey Say, yeah, aku tahu. Tapi..” kata Hikari tidak yakin.
    “Ayo.” Riku menarik Hikari. Dan mereka melewati lapangan besar sekolah mewah itu.
    Gedungnya yang tinggi dan besar itu malah berkesan nggak ramah buat Hikari. Tapi, kalau dia melirik Riku, sahabatnya itu nggak terlihat panik.
    Sahabatnya memang lebih tomboy dari Hikari, lebih cuek, pendiam, dan terkadang tak menentu.
    “Hika-chan.. Sepertinya, itu gedung artis kan?”
    “Oh, yup.”
    Hikari kembali berjalan disebelah Riku, dalam pikirannya sendiri. Sampai sesosok orang yang ada di depannya saja luput dari pandangannya. Dan, tabrakan itu tentu tidak bisa di hindari.
    “Aaarrgghh..”
    “Yurushi.. Yurushite kudasai.” ucap Hikari sambil membereskan seragamnya dan berdiri.
    “Tak masalah. Kau, baikkan?” tanya cowok itu sambil memungut barangnya yang jatuh.
    “Ya, aku.. “ Hikari tediam menatap cowok yang juga sedang merapikan seragamnya.
    “Hika-chan..”
    “Chinen-kun..”
    Suara Riku dan seorang cowok lain bersama-sama terdengar, walau nama yang disebutkan berbeda.


    ‘Chinen Yuri.. dan.. Morimoto Ryutaro?!’
    “Ah, ya. Aku baik-baik saja. Sekali lagi, yurushi.” Hikari tersenyum singkat lalu menarik Riku pergi.
    -------
    “Ryu-kun? Sejak kapan namamu jadi Mikano Hikari dan Hisashi Riku?” Yuto meneliti 2 name-tag yang tergantung di depan name-tag milik Ryu.
    “Itu? Milik.. Entahlah.. Dua cewek dari kelas jenius? Gedung sebelah maksudku. Pagi tadi cewek itu menabrak Chii dan..” Ryu mengancungkan 2 name-tag bertulisan Mikano Hikari dan Hisashi Riku di depan wajah Yuto. “Dia menjatuhkannya.”
    “Dua?”
    “Dia dan temannya.”
    “Yuto-kun, Ryu-kun, ada latihan.” Chinen muncul bersama Yamada.
    “Belum mau bergerak dari tempat itu?” Yamada berkata sambil melihat name-tag yang di pegang Ryu.
    “Soal name-tag itu.. Urus besok atau suruh mereka ke club saja.” usul Yuto.
    “Hai, baiklah. Disini ada nomor mereka.” Ryu mengangguk menyetujui ucapan Yuto barusan.
    “Ayo.” Chinen tersenyum dan merjalan disebelah Ryu. Dan tanpa melirik lagi, Ryu tahu Yama dan Yuto juga jalan bersama, sambil bercanda.
    -------
    “Kyaaaaaaa! Riku-chan! Hari ini benar-benar terkutuk!!”
    “Hai, dan kau juga ikut mengutukku.” sahut Riku dibalik komik yang sedang dibacanya. Komik karangan Yagami Chitose.
    Seperti biasa, beradaptasi itu tidak mudah. Apa lagi beradaptasi di dalam sekolah megah seperti ini. Hari pertama masuk sekolah, name-tag mereka hilang, dan segerombol cewek centil bersuara melengking menyerbu karena peristiwa nggak disengaja menabrak cowok pendek pagi hari tadi. Karena menabrak seorang Chinen Yuri, fans-fansnya, segerombol cewek itu, mencegat Hikari dan Riku sambil marah-marah tak jelas.
    Untung sajalah, Riku pernah ikut perguruan judo. Dan kalau Riku kesal galak sekali. Seperti ryu – naga.
    “Lalu, kau mau menunggu disini, heh? Menunggu seseorang yang berbaik hati mengantarkan name-tag kita? Kurasa tidak. Tidak akan ADA.”
    Riku sudah memasukkan komiknya sekarang. “Tak ada gunanya juga kau mondar-mandir seperti, setrika.”
    “Aku sedang berpikir!!”
    “Aku juga. Berfikir betapa bodohnya aku membiarkan kau membawa name-tagku juga.” Riku tersenyum iseng disambut pukulan pelan Hikari.
    Handphone Riku bordering, dan PRIVATE NUMBER muncul di layar HP-nya. Biasanya jika ada kata-kata PRIVATE NUMBER muncul di HP-nya, Riku akan membiarkannya. Tapi, entah dorongan kuat itu muncul dari mana, Riku memencet tombol untuk menjawab panggilan itu.
    “Hey,”
    “Hey, kau Hisahi Riku?”
    “Hmm.. Kau siapa?”
    “Oh, maaf. Aku Morimoto Ryutaro. Kurasa, kau dan temanmu kehilangan name-tag?”
    “Kau, iya, benar! Kau dimana?!”
    Mendengar ucapan Riku yang mendadak mengeras, Hikari berhenti menjadi setrika. Ia mematung menatap Riku.
    “Hika-chan, kurasa aku tahu dimana name-tag kita.” ujar Riku setelah hubungan HP-nya terputus.
    Mendengar itu, Hikari meloncat duduk di samping Riku.
    “Dimana?”
    Riku berbisik pelan, tepat ditelinga Hikari.
    “JOHNY’S CLUB??!” teriak Hikari kemudian.
    -------
    Gedung itu tinggi sekali. Seperti pencakar langit lainya di Tokyo. Untuk kedua kalinya dalam hari itu, Hikari lemas untuk berjalan.
    “Aku ingatkan, jangan melamun lagi, Hika-chan.”
    “Hai!” Hikari berjalan bersama Riku. Rambut panjang Hikari diikat satu, menyisakan poni miringnya yang panjang menutupi dahinya. Rok hitam sedikit diatas lutut dan kaus putih dengan pita merah kecil dikenakan Hikari. Dia memang cantik dan agak feminin.
    Walau tidak terlalu, tapi dia cukup suka Ladies Fashion. Berbeda 180* dari Riku yang tomboy abis. Rambutnya yang kecoklatan dipotong pendek sedikit diatas bahu, dan di gel berantakan. Dia benci total sama rok dan warna pink. Jadi, sekarang dia memakai celana hitam selutut dan kemeja kotak-kotak berwarna merah-hitam.
    Tidak lama kemudian kedua sahabat itu berhenti, dihentikan tepatnya oleh sebuah suara dari counter, seperti meja receptionist yang bertulisan ‘TAMU HARAP LAPOR’ itu.
    “Maaf, tapi anda mencari siapa, ya?”
    “Hmm, kami,” Hikari berhenti berbicara.
    “Morimoto Ryutaro.” Potong Riku. “Kami Hikari dan Riku.”
    Si wanita penjaga counter itu mengerutkan alisnya. Berani bertaruh, ia pasti sedang mengingat satu per satu teman Ryu. Dan pasti tersaru antara teman dan fans.
    “Chotto matte kudasai.” kata si wanita kemudian. Dia lalu meraih telepon putih disamping komputer besarnya. Terdengar percakapan singkat di telepon lalu si wanita berbalik.
    “Silahkan. Lantai 4, belok ke kanan, ruangan paling ujung bertulisan ‘Y’.” si wanita tersenyum menunjuk lift di arah kanannya.
    “Hai, arigatou. Arigatou gozaimasu.” ucap Hikari dan Riku hampir bersama.
    Mereka menaiki lift kaca itu. Rasa nervous kembali menyerang Hikari.
    “Kau sudah cantik kok. Ini impianmu kan? Bertemu Hey!Say!JUMP?” Riku tersenyum iseng, seperti dapat membaca pikiran Hikari.
    “Hai, aku tak menyangka. Sungguh. Diterima di Horikoshi Gakuen, dan.. sekarang.. berada disini.”
    Hikari tak pernah merasa lift yang berjalan lebih pelan dari lift ini. Entah karena dia terlalu nervous atau lift ini memang payah, tapi sepertinya lantai 4 ada di lantai 40.
    “Ayo. Jika kau seperti itu aku semakin takut.” Riku menyadarkan lamunan Hikari.
    Ternyata ini lantai 4? Lorong panjang yang dipenuhi pintu-pintu besar. Dan begini kah tempat latihan artis-artis JOHNY? Membayangkan para anggota HSJ ada di salah satu pintu ini saja membuat Hikari lemas. Antara gemetar dan senang. Impiannya untuk menemui artis favouritenya sudah dekat, dalam hitungn detik.
    “Ini pintu Y. Aku tak siap kau?” Tanya Hikari. Riku mengangkat bahu lalu mengetuk pintunya.
    -------

    Labels:







  • ME

    Gabriela Maria Quincy


    1997. INDONESIA. FANGIRL. SANURIANS.
    Girl. Gabriela Maria Quincy. Indonesian-Chinese. 27/09/1997. AB. Proud to Be.

    Facebook     • Tumblr     • Twitter    

  • TAGBOARD