Januari 2010, Semester kedua kelas 3 SMA di Horikoshi Gakuen...
“Karena kalian telah memilih kelas sinematografi untuk jurusanmu di sekolah ini—“ jelas Pak Fujihara panjang lebar di depan kelas. “Jadi, untuk laporan akhir, kalian akan mengadakan field trip di lokasi syuting sebuah film ataupun sinetron.”
Kelas mendadak gaduh, meskipun sebenarnya, sebagai siswa jurusan sinematografi, mereka seharusnya sudah memaklumi tugas ini, tapi kebanyakan menjadi agak ‘norak’ mendengar berita kecil ini.
“Class!” seru Pak Fujihara menenangkan anak-anak yang bertambah gaduh itu, kelas mendadak tenang ketika mendengar seruan dari guru itu.
“Waktu kalian 2 bulan. Waktu yang panjang, tapi kalau tidak dimanfaatkan dengan baik, saya tidak mau bertanggung jawab—“ kata Pak Fujihara. “Kalian murid-murid terpilih, murid-murid terbaik yang ada di Jepang. Maka kalian harus membuktikan semua itu benar adanya.”
Perkataan Pak Fujihara kemudian terpotong bel sekolah yang berdering nyaring, ia tersenyum sebentar dan membereskan barang-barangnya. “Bye, Class—“
-------
“Gee—“ Yaotome Kirarin memanggil sahabatnya ini dengan suara yang agak lirih. “Kau sudah memikirkan mau memilih field trip di mana?"
Gee segera mengangkat kedua bahunya. “Belum—“
“Kita harus sama-sama, kan?” tanya Kirarin lagi sambil menyenggol-nyenggol bahu temannya.
“Ya—“ jawab Gee datar, agak tidak bersemangat. “Aku harus tanya Ka-san dulu.”
“Ahhh…” Kirarin menarik baju Gee dengan manja. “Kau marah, ya, Gee?”
Tiba-tiba saja, ketika Kirarin mengucapkan kata itu, terdengar suara gelas yang pecah.
“Sesange, what bloody hell is that?!” Kirarin memekik, diawali dengan bahasa Korea, seperti kebiasaannya selama ini, lalu disusul dengan bahasa Inggris. Kadang-kadang Kirarin memang begitu, selalu saja bicara dengan bahasa yang dicampur-campur, paling sering dengan bahasa Korea dan Inggris. Gee tidak memberi reaksi apa-apa, tidak seperti sahabatnya, ia hanya diam saja, tapi kepalanya menggeliat melihat asal dari suara itu.
Seorang gadis kelas 2 yang bernama Minase Naomi terlihat tak berkutik melihat seorang siswa laki-laki di depannya. Dan tebak siapa laki-laki itu! YAMADA RYOSUKE! Ia ditemani oleh Nakajima Yuto dan seorang gadis penguntit, Shida Mirai itu.
Minase Naomi tak berani mengangkat wajahnya, sedangkan Yamada Ryosuke berkata dengan nada dinginnya. “Aku bilang aku mau duduk di sini—“
“Tapi, kami, kan, sudah duluan—“ Dengan wajah yang masih menunduk Minase Naomi menjawabnya. Kedua temannya kelihatan gentar ketika mendengar temannya itu mengucapkan kata-kata seperti itu.
“Kau sepertinya tak tahu siapa aku, kan?” tanya Yamada dengan suara yang masih tetap dingin. “Aku ini Yamada Ryosuke, anak kelas selebriti Jepang, dan kau siapa?”
“Dia hanya gadis tolol yang mengaku-ngaku pintar karena berada di kelas orang biasa—" celetuk Shida sambil melipat tangan di depan dadanya.
“DIAM, SHIDA!!!” perintah Yamada, sehingga Shida segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Yamada kemudian berkata lagi, “Shida Mirai, di mana Ryu, Chii, dan Keito?”
“Entahlah—Sepertinya Ryu dan Chii sedang berenangdan Keito sedang main gitar—“ jawab Shida Mirai sambil tersenyum manis, tapi senyum itu nampaknya tidak begitu diperhatikan oleh Yamada.
“Ketiga orang itu selalu saja menghilang entah ke mana di saat-saat seperti ini—“ gerutu Yamada kesal, Yuto hanya terkekeh pelan mendengar gerutuan itu.
“Yuto, pelajaran apa yang kira-kira cocok untuk orang ini?” tanya Yamada dengan agak ramah sekarang.
“Hmmm, kenapa kau tidak membawanya ke rumah saja?” tanya Yuto dengan kekehan kecilnya.
Yamada segera menoleh dengan pandangan siap membunuh. “YAAAAAAAAAAAAAAAA!!! NAKAJIMA YUTO, MAU MATI, YA?!!!”
Yuto kemudian sangat kaget dengan reaksi luar biasa itu, ia segera mengangkat tangannya, “Gomene, Yama-chan. Maksudku, kan, hanya sekadar untuk dijadikan pelayan saja—“
“Tidak! Nanti bisa-bisa aku ditangkap karena memperkerjakan anak di bawah umur lagi—“ tolak Yamada dengan nada yang agak ketus.
Shida kemudian terkekeh pelan mendengar pertengkaran kecil itu. “Yama-chan, kenapa kau tidak menyiramnya dengan jus yang kubawa ini saja? Tapi, jus ini dibawa ibuku dari Australia! Kau yakin akan membuatnya berkontak tubuh dengan barang dari luar negeri?”
Tanpa banyak bicara lagi, Yamada meraih botol jus dari tangan Shida Mirai. Tapi ketika ia baru saja ingin menyiram jus strawberry itu ke atas kepala gadis bernama Minase Naomi, tiba-tiba saja sebuah tangan panjang berwarna coklat mengibaskan tangannya itu ke arah botol jus itu, alhasil, jus itu tumpah semua ke atas seragam Yamada Ryosuke, bahkan ada yang mengenai wajahnya.
Mata Yamada Ryosuke terbelalak, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya ada orang yang berani memperlakukan hal seperti itu padanya. Seumur hidupnya, ibunya saja tak pernah bisa bersikap seperti itu, dua saudari perempuannya? Apalagi!
Yamada segera berteriak,“YAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
Tiba-tiba saja Shida sudah berada di depannya, membersihkan wajah dan baju yang terkena jus itu, gadis penguntit itu kelihatan sangat kelabakan melihat penampilan Yamada Ryosuke yang seperti ini. Tapi, dengan satu gerakan kasar, Yamada mendorong Shida ke samping, mengacuhkan perhatiannya itu, ia ingin melihat siapa yang telah berani-beraninya melakukan hal selancang itu padanya.
Dan di depannya, berdiri seorang siswi yang kurus, tapi tinggi. Kulitnya agak kecoklatan, seakan-akan ia telah berjemur selama musim panas lalu. Rambutnya hitam pekat, panjang, dan diikat dalam satu ikatan ekor kuda. Wajahnya menarik, bukan seperti orang Jepang. Ia terlihat agak gentar ketika ia membalas tatapan matanya.
Tiba-tiba saja di saat yang sama, yang ia tahu murid perempuan yang tadi baru saja ia bentak yang kalau tidak salah bernama Minase Naomi itu pingsan di tempatnya, kedua temannya kelabakan, tapi Yamada hanya mengalihkan pandangan sekilas, sedetik kemudian, matanya yang tidak ramah segera menyorot ke siswi yang lancang itu lagi.
Yuto dari jarak kurang lebih 1 meter melihat kejadian itu, tapi ia tidak tahu harus terkekeh atau pun prihatin. Baru kali ini ia melihat Yamada diperlakukan seperti itu, apalagi oleh seorang gadis!
Siswi yang melakukan tindakan mengejutkan itu menegakkan posisi berdirinya, ingin berusaha kelihatan lebih berwibawa. Yamada Ryosuke mempelajari perempuan ini sebentar, dengan teliti dan hati-hati.
SHIT ! Ini siswi perempuan yang waktu itu, kan? Ah, aku lupa namanya!
Tangan Yamada segera terkepal sempurna, menjadi satu kepalan tinju yang sangat mantap. Tangan itu teracung di udara, hampir mendekati wajah Gee yang sekarang sedang menunduk dengan posisi sempurna.
Teriakan itu tidak menghentikan Yamada sama sekali, tapi sebuah tangan putih yang basah dan memercikan beberapa bulir air kemudian yang menghentikan gerakan Yamada sama sekali.
Yamada melihat ke depannya, takut-takut kalau ia salah melihat, tapi Morimoto Ryuutaro sedang berada di depannya dan memegang tinju Yamada yang sebenarnya hampir mengenai ulu hati gadis kurus di hadapannya itu.
"Ryo-kun, beginikah sikapmu pada seorang gadis?" tanya Ryu dengan wajah yang agak basah kuyup, handuk masih terlingkar di sekeliling lehernya.
Yamada, yang masih dalam keterkejutannya, akhirnya tersentak juga,“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, MORIMOTO RYUTARO?”
“Main otello? Aku tampak begitu?” tanya Ryu. Sinis dan kecut.
Tapi, perkataan itu mengundang tawa satu kantin itu.
Yamada terlihat geram, tangannya sudah terkepal sempurna.“YAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Akan kubunuh kau!!!” teriak Yamada lagi sambil menunjuk ke arah Ryu. “DAN KALIAN SEMUA!!!” Api kemarahan tampak jelas di matanya.
“Hei, Yama-chan! Ryu-chan!” teriak Chii dari arah lain.
Chii dan Keito sedang melangkah ke sana, menghentikan pertengkaran itu sebelum Yamada dan Ryu saling menyerang. Tidak boleh, mereka adalah grup Hey! Say!7 , tak boleh ada gossip aneh-aneh tentang mereka berlima. Selama ini, perang dingin antara Yamada dan Ryu selalu bisa ditutup-tutupi oleh pihak Hey!Say! Jump dan Johnny Ultra Music Power sendiri. Tapi, jika perang disulut segamblang ini di depan umum, yang ada besok Hey!Say! 7 akan masuk berita gossip, dan pihak Horikoshi Gakuen tak akan senang tentang ini. Bisa-bisa salah satu dari Yamada dan Ryu ditendang dari sekolah itu untuk sementara waktu.
“Ohhh… Yama-chan— Ryu-chan— Tenang Sedikit—“ seru salah satunya lagi, Okamoto Keito. Tangannya merangkul pundak Gee, ingin menyelamatkannya dari perang dingin ini.
Kalau hubungan tidak harmonis yang sudah dari lahir dan alamiah saja sudah akan jadi masalah bagi para penggemar, apa lagi jika Yamada dan Ryu ketahuan bertengkar karena perempuan? Akan ada yang di-kick dari Hey!Say!7 sepertinya jika benar begitu.
Gee merasa tak nyaman dengan rangkulan itu. Ia menepis, tapi tangan Keito masih saja berada di pundaknya.
“Jangan macam-macam sekarang—“ bisik Keito. Ia kembali menekankan tangannya di atas bahu Gee.
Gee akhirnya memutuskan untuk diam, ia memperhatikan Shida Mirai yang sekarang berada di samping Nakajima Yuto dengan wajah yang tegang. Tapi, seketika Shida menyadari pandangan Gee padanya.
“Nani?” tanya Shida dengan nada yang mengejek, namun pelan.
“Daijobu—“
Gee menoleh ke atasnya, ke arah Keito yang masih merangkulnya. “Lepaskan aku—“
Kemudian, Kirarin datang ke arahnya bak seorang penyelamat. Kirarin yang menepis tangan Keito hingga menyingkir dari bahu Gee, sebagai gantinya Kirarin memegang lengan Gee sambil mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea untuk kesekian kalinya. “Gwenchana?”
Keito kemudian terbelalak melihat kejadian itu. Tapi, perhatiannya langsung teralih pada bunyi bruk yang sangat amat tidak professional, Ryu jatuh di hadapannya, sedangkan Chii hanya lompat-lompat tak jelas di antara Ryu dan Yamada. “Yama-chan! Ryu-kun! Stop!”
Keito dan Yuto segera maju ketika emosi Yamada mulai benar-benar meluap, kepalan tangannya terarah pada Chii. “Tutup mulutmu, rascal!”
Ryu segera bangkit berdiri ketika melihat Chii dipukul oleh Yamada secara terang-terangan. Chii terkapar di lantai sambil berteriak-teriak tak jelas lagi. “Oh!! Aku mati!! Aku mati!!”
“Yamada Ryosuke, apa yang kau lakukan?”
“Apa pun yang kulakukan sekarang, aku yakin aku bukan menjadi sosok sok pahlawan seperti dirimu!” bentak Yamada pada Ryu yang segera membantu Chii bangkit berdiri.
Keito berada di samping Ryu sambil membantu Chii bangkit berdiri juga, sedangkan Yuto memegang lengan Yamada erat-erat, berniat menghentikannya. “Oh, Brother, jangan lakukan hal seperti ini—“
Yamada melotot ke arah Yuto sampai Yuto melepaskan tangannya di atas lengan Yamada. “JUMP bisa menskorsmu kalau begini terus. Ingat— JUMP dan Horikoshi tak akan senang dengan hal ini— Nanti kontrakmu bagaimana?“ Yuto berkata lagi.
“Shit!!” umpat Yamada keras. “Oke!!! Jangan di depan publik!!! Nanti, Morimoto Ryutaro!!!”
“Ehhhh— Urus perempuan itu—“ Ryu berbisik pada Keito mendelik ke arah Gee yang berdiri mematung di belakang dengan Kirarin di sampingnya.
Keito segera bangkit, ia mendekap Gee lalu menyeret Gee dengan paksa, sampai teman di sampingnya pun ikutan terseret. Tapi dengan satu gerakan cepat, Gee menepis tangan Keito dari pundaknya. “Ada sesuatu yang harus kulakukan..“
Gee berbalik, ke arah Yamada Ryosuke. Ia berjalan dengan penuh kepercaya dirian ke arah pentolan Hey!Say! 7 itu. “Untuk orang-orang yang telah kau bully—“ Gee menampar Yamada Ryosuke dengan keras. Pipi lelaki itu memerah, matanya melotot ke arah Gee. Tapi, Gee dengan santainya berbalik dan melihat Kirarin dengan tubuh tegap berjalan ke arah Yamada Ryosuke juga.
“DAN INI UNTUK SAHABATKU!” jerit Kirarin. Gee menoleh ketika mendengar jeritan itu. Kirarin terlihat menendang tulang kering Yamada dengan sangat keras. “Jangan berani-berani mempermalukan Gee lagi. Kalau tidak, kau akan mati!!!!”
Kirarin berbalik. Wajahnya terlihat takut-takut. Tapi ia meraih tangan Gee dengan yakin, menyeretnya keluar dari kantin itu.
-------
“Shit!!” Yamada Ryosuke mengumpat dengan berjuta kekesalan. “Sialan sekali orang-orang itu!”
Orang-orang itu? Tapi, ia sendiri tidak tahu siapa orang-orang yang dia maksud. Ada banyak sekali orang-orang yang kurang ajar terhadap dirinya hari ini.
Di antara bibirnya, terselip sebatang rokok, biasanya ia memang suka begini kalau sedang kesal sekali. Rokok ini didapatnya dari supirnya, yang walaupun awalnya ragu-ragu pasti akhirnya akan memberi sebatang rokok bagi Tuan Mudanya.
Yamada sedang berjalan santai di halaman rumahnya, tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Ia ingin cepat-cepat sampai ke kamarnya. Ingin cepat-cepat tidur. Sehabis dari sekolah yang menyebalkan itu. Untung tadi ia sudah mengganti bajunya yang kotor dengan seragam Horikoshi cadangan Yuto dan mandi di Horikoshi. Kalau tidak, ia pasti akan lebih bad mood dari ini.
“Heh!” jerit suara seorang perempuan. Yamada dibekuk dari belakang dan tahu-tahu rokoknya sudah tidak terselip lagi di bibirnya.
“HEHHH!!!” Yamada berteriak lebih keras lagi. Ia terjatuh di lantai dan ia tak suka ini. Bayangkan, ia tersungkur di lantai tempat berjuta kuman dan debu bersarang. Mandi seharian pun sepertinya tidak cukup untuk membuat tubuh seorang Yamada Ryosuke bersih kembali.
“Dasar anak nakal!” seru suara itu lagi dengan nada melengking. Yamada masih tersungkur, ia mencoba mengibas-ngibas seragamnya, setelah mendengar seruan melengking itu, baru Yamada mendongak ke arah orang yang tadi sudah membekuknya. Seorang perempuan yang tinggi semampai, dengan rambut terurai sampai ke punggung berwarna coklat muda, mata yang tidak terlalu sipit—tidak seperti orang Jepang pada umumnya, hidung yang mancung, wajah putih bersih tanpa jerawat atau pun komedo yang selalu terlihat imut, namun dapat berubah killer jika berhadapan dengan adik lelakinya, sudah berdiri di hadapannya.
“YAAAA!! NEE-CHANNNN!!” jerit Yamada. Tukang kebun di rumah itu segera menoleh ketika mendengar jeritan super keras itu.
“Heh!!! Maksudmu apa merokok di lingkungan rumah?” tanya Nee-chan nya geram, kesal setengah mati. “Bangun sekarang!!!”
“Yamada Chihiro!!! Jangan ikut campur urusanku!!” bentak Yamada, tak kalah kesal. Ia bangkit dari lantai itu, memandangi Nee-chan nya yang lekat-lekat yang disambut tatapan membunuh dari seorang Yamada Chihiro.
“Sudahlah. Aku malas bertengkar.” Chihiro mengibarkan bendera putih, ia menyerah menghadapi adiknya.
“Sana masuk! Okaa-san sudah pulang dari Jerman.”
“Untuk apa beritahu aku? Sepertinya itu tidak penting—“ jawab Yamada enteng, enteng sekali.
“Ibumu itu pulang ke rumah sebulan sekali. Makan malam dengan kita paling tidak hanya bisa tiga bulan sekali.”Chihiro menjelaskan. “Jangan buat dia kesal dan tidak sanggup berada di rumah karena ulahmu.”
Yamada mencibir. “Dia itu bukan pewaris harta kekayaan keluarga Yamada, kan? Yang mempunyai nama keluarga Yamada juga aku. Aku juga, kan, anak lelaki satu-satunya di keluarga ini? Jadi, seharusnya dia yang hormat padaku. Seharusnya dia juga yang membuatku senang dan tidak kesal berada di rumah ini. Tapi, apaan. Setiap kali berada di hadapanku, seluruh cacing di tubuhku selalu menjalar dengan lincah.”
Chihiro melotot. “JAGA MULUTMU ITU, YAMADA RYOSUKE!” seru Chihiro melengking. “Lama-lama ahli warisnya juga bisa berpindah ke tanganku jika sikapmu seperti ini!”
“Bodo amat.” tukas Yamada santai. “Kalau Nee-chan tiba-tiba mengalami amnesia parsial, sini aku ingatkan. Aku ini vokalis sekaligus pemimpin Hey!Say!7. Aku sanggup, kok, hidup tanpa warisan ayah.”
“Yamada Chihiro. Yamada Ryosuke.” panggil seseorang, membuat Yamada dan Chihiro menoleh ke sumber suara itu.
Tepat di depan pintu rumah kediaman keluarga Yamada, berdiri seorang perempuan berumur 40-an yang tinggi semampai, cantik, berkulit putih bersih, dan terlihat elegan dengan kemeja ruffles warna putih dan rok pensil dari satin. Pemandangan itu sulit didapatkan, mengingat betapa jarangnya ibu di keluarga Yamada ini pulang ke rumah, karena statusnya yang bukan ibu saja, namun merangkap kepala keluarga dan CEO di Yamada Group, pengelola harta kekayaan keluarga Yamada yang tak akan habis sampai tujuh turunan pun.
“Okaa-san—“ Chihiro memanggil perempuan itu bernama Miharu Arisa dengan sebutan itu, sedangkan Yamada tidak mengeluarkan suara, ekspresinya kurang ajar.
“Chi—“ panggil Miharu Arisa. “Masuk ke dalam. Aku mau bicara dengan adikmu.”
Chihiro tersenyum terpaksa. Dia tidak tahu dia salah apa. Tapi, ibunya memang selalu dingin terhadapnya dan Yamada. Sedangkan, Mika, adiknya yang paling bungsu selalu ibunya perlakukan dengan sangat baik, mungkin agak konyol jika ia cemburu dengan adiknya yang paling bungsu, sedangkan ia sudah hampir memasuki umur duapuluh satu, namun tetap saja ia agak heran dengan sikap pilih kasih ibunya yang terlalu mencolok.
“Nama panggilannya bukan Chi.” Yamada nimbrung dengan nada yang sangat tidak enak didengar telinga. “Chi itu nama personel Hey!Say! 7—“
Chihiro mendelik ke arah Yamada, melotot, menyuruh adik lelakinya itu untuk diam, tapi Yamada belum bisa diam.
“Apakah perempuan ini pantas disebut Okaa-san, ketika dia bahkan tidak tahu nama panggilan anak pertamanya sendiri?”
“Chi, masuk ke dalam—“ perintah Arisa lagi. “Yamada Ryosuke, masuk juga, segera masuk ke kantorku.”
Yamada pura-pura tidak mendengar perintah itu, sedangkan Chihiro sudah masuk duluan ke dalam rumahnya. Yang sekarang ada di luar hanya ibunya dan Yamada saja.
“Masuk. Cepat.” perintah Arisa dengan lebih tegas lagi.
“Masuk saja duluan—“ cibir Yamada pendek.
Arisa terlihat mengurut keningnya sendiri, ia akhirnya menyerah dan kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Yamada sendirian di luar.
Yamada memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Wajahnya terlihat dingin dan kecut setelah melihat ibunya itu. Yamada tidak pernah suka melihat ibunya setelah kematian ayahnya. Karena ia tahu persis karena siapa ayahnya itu meninggal lima tahun lalu.
Ia berjalan menuju ujung kanan rumahnya yang besar itu, ruangan kerja Miharu Arisa. Jika ibunya berada di rumah, dijamin ia akan lebih lama berada di ruangan itu daripada di ruangan lainnya.
Dengan tangan yang masih berada di dalam saku, ia memasuki ruangan kerja itu. Ibunya sudah terlebih dulu sampai di ruangan itu, ia duduk di kursi besar yang empuk di belakang meja kerjanya.
“Duduk—“Ibunya berkata sambil tangannya menunjuk kursi yang berhadapan dengannya.
Setiap kali ada pembicaraan dengan Yamada selalu begini, selalu kaku.
“Minase Naomi—Ahli waris satu-satunya dari Minase Group—“ Ibunya membuka pembicaraan dengan tenang, tangannya berada di depan dada. “Aku ingin dengar apa yang kau lakukan padanya. Dia mempunyai penyakit jantung, jantungnya tidak kuat sejak kecil.”
“Oh, ya?” Yamada balik bertanya, ia malah terlihat antusias. “Kenapa dia? Mati tiba-tiba karena serangan jantung?”
“Yamada Ryosuke, jaga bicaramu—“ Ibunya berkata dengan cepat dan tegas.
“Aku seharusnya juga bisa bilang ‘Jaga bicaramu’ waktu itu—“ tukas Yamada tak kalah cepat. “Miharu Arisa-san. Kalau hanya ingin bicara seperti ini, kau baru saja membuang-buang waktuku—“
“Yamada Ryosuke!” seru Arisa keras ketika Yamada beranjak dari kursinya. “Tidak ada yang menyuruhmu beranjak dari kursimu! Tidak ada yang menyuruhmu keluar!”
“Miharu Arisa, Anda tidak bisa memerintahku—“ tukas Yamada cepat dengan tatapan membunuh.
“Kau tidak kuperbolehkan memilih field trip di luar negeri !”seru Arisa, menyebutkan vonis hukuman darinya.
“Ayah dari Minase Naomi menelponku dan marah-marah. Hubungan kerja sama antara Minase dan Yamada Group putus gara-garamu!”
“Kalau kau marah-marah karena itu, biar kuberitahu!” teriak Yamada dengan lantang. “Ayahku meninggal gara-garamu!”
“Kau anak yang kurang ajar!” teriak Arisa.
“Ya! Aku memang kurang ajar!” teriak Yamada dalam nada yang frustasi. “Tapi aku selalu ingin bertanya padamu kenapa kau bisa berselingkuh di belakang To-chan!!”
Arisa melotot karena kelancangan putra kandungnya itu. “Aku bilang jaga mulutmu!”
“Kenapa bisa seblak-blakan itu bilang pada To-chan?! Kenapa bisa bilang kalau Mika ternyata bukan anak To-chan, melainkan hasil hubungan gelapmu dengan pria brengsek itu?” tanya Yamada lagi. “Dia mencintaimu! Kau menghancurkan dirinya dan akhirnya dia kecelakaan, meninggal!”
“Diam!” bentak Ibunya lagi.
“Kau bukan ibuku!” Yamada balas membentak, air matanya hampir tumpah kalau saja harga dirinya tidak mengijinkan untuk itu. Ia berbalik dan menuju ke pintu, berusaha mati-matian untuk menahan air matanya.
“Aku selalu berharap kalau aku bukan ibumu, Ryosuke—“ jawaban tenang dari ibunya itu membuat Yamada ingin meledak, hatinya bergejolak, ingin menampar ibu kandungnya itu, ibu kandung yang tidak pernah mengharapkan dirinya. “Melahirkanmu dan Chihiro adalah sebuah kesalahan— Kalau saja Chihiro laki-laki, aku tidak perlu melahirkan lagi untuk mendapat anak lelaki, apalagi mendapat anak sepertimu.“
Tangan Yamada naik untuk menyeka air matanya. Tubuhnya sudah naik turun sekarang. Ia menahan isakannya. Dia seorang anak yang menerima kepahitan dari hubungan kedua orang tuanya bahkan di umur 13 tahun. Ibunya tidak pernah mencintai ayahnya, ibunya berselingkuh dengan pria lain. Mika adalah saudara lain ayahnya. Pernikahan kedua orangtuanya hanya sebuah perjodohan yang diatur kedua kubu. Semua ini ingin membuat Yamada menjerit. Ibunya tidak pernah menyayangi Yamada dan kakaknya sebagaimana ia menyayangi Mika.
“Nama panggilanku bukan Ryosuke—“ tukas Yamada, ia berusaha untuk menguatkan diri sekalipun ia bisa sesenggukan kapan saja. “Kenapa, sih, hal kecil seperti itu, yang teman-temanku dan fans-fansku tahu, Anda malah tidak tahu?”
Yamada menangis. Ia keluar dari ruangan itu. Perasaannya terluka. Setiap kali kedatangan ibunya di rumah ini, setiap kali juga Yamada menangis. Karena, sekali mereka bertengkar, ibunya akan mengatakan kalau ia adalah kesalahan. Ia memang kesalahan. Yamada tahu persis itu. Yamada Ryosuke adalah kesalahan yang tak bisa dibenarkan. Tapi apakah kelahirannya di dunia ini merupakan suatu kesalahan? Bisa jadi. Mungkin saja. Karena ia sudah tidak bisa dibenarkan lagi.
-------
“Hey!!! Takahara Gee!!!” seru Takahara Daiki, aniki tiri Gee, aniki lain ayah Gee, ketika masuk ke dalam kamar Gee.
“Apaan sih?” Gee merengut kesal, padahal ia sedang mengerjakan PR dan anikinya telah sukses memecahkan konsentrasinya.
“Hehehe.. Tolong ke restoran dan bilang pada To-chan—“ Belum selesai Daiki menyebutkan permintaannya, Gee sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas.
“Eitsss! Jangan coba-coba minta tolong padaku! Aku sedang mengerjakan PR-ku!”
“Iya, deh—“ Daiki mulai ingin menggoda adiknya, tiga tahun belakangan bersama adik tirinya ini benar-benar membuat mereka dekat sekali seperti saudara kandung. “Yang sekolah di Horikoshi. Kakakmu yang cuma sekolah di TIT ini pasti kalah denganmu.”
“Ehhh… Jangan banyak bicara lagi!! Hushhhh hussshh!!” usir Gee sambil mencoba meraih anggota tubuh Daiki yang bisa diraihnya, ia memukul-mukulnya. “Hushh!! Pergi sana!!”
“Aushhh.. Hey, adikku yang paling cantik..” Daiki masih belum mau keluar dari kamarnya, masih kekeuh dengan niatnya semula. “Please dong— Yang sekolah di Horikoshi pergi ke restoran ayah dan bilang pada To-Chan kalau aku hari ini sakit. Tak bisa membantu di restoran, jadinya kau yang menggantikan. Aku malas sekali, nih!”
“Dasar malas!” bentak Gee keras. “Bagi orang seperti kita ini. Tak boleh ada kata malas. Tahan banting dan pantang menyerah itu sangat diperlukan!”
“Cieeeeee…” Daiki mulai menggoda adiknya lagi. “Kata-katamu itu, adikku. Keren.”
“Heh! Sudah sana pergi! Bantu ayah! Hari ini, kan, giliranmu!” bentak Gee lagi, mendorong Anikinya sampai ke pintu keluar.
“Ihhh…” Daiki mulai memajukan bibirnya dengan kesal. “Adikku sayang, please dong..” Tangan Daiki lalu naik dan mencubit kedua pipi Gee dengan gemas, sampai wajah Gee bolak-balik ke kanan dan ke kiri. Gee menepis tangan Anikinya, cemberut, dan mencoba berpikir sebentar.
“Hhhhh..” Gee menghela napas dengan keras. Ia juga tidak tahu apa sih yang ada di Anikinya ini sampai ia tak bisa menolak permintaannya. “Beri aku setengah jam buat mengerjakan PR. Nanti aku pergi ke restoran. Kalau kau tidak niat susah juga, nanti kerjanya tidak becus dan bikin repot ayah dan ibu.”
“Begitu dong.. Adikku sayang—“ Daiki mencolek dagu Gee sambil memamerkan senyum mautnya, salah satu alasannya sampai bisa dianggap playboy di kampusnya. Tanpa ba bi bu, Daiki lari ke kamarnya yang ada di seberang. Sepertinya mau main game.
“Hhhhhh..” Gee menghela napas sekali lagi.
-------
“Eh? Mau pergi ke restoran?” Kirarin bertanya dengan nada penuh kekecewaan. “Bukannya hari ini hari Kamis, ya? Bukannya seharusnya Aniki sablengmu itu yang membantu orang tuamu di restoran?”
"Dia sedang malas.. Huuh.." jawab Gee kesal.
“Eh? Dia sedang malas?” Kirarin tambah terdengar kecewa lagi, ia ingin sekali bertelponan dengan Gee, ingin ngobrol-ngobrol, tapi ternyata Gee harus pergi ke restorannya untuk membantu kedua orang tuanya.
“Hiiihhh!!! Itu si aniki-mu itu sekali-kali harus kutampar sepertinya..” Kirarin geram, gemas.
“Oke. Bye.” Kirarin memutuskan sambungan dengan wajah yang kecewa, malas.
Di rumahnya ini dia tak punya teman untuk bersosialisasi. To-chan-nya selalu punya urusan di luar negeri, urusan pekerjaan, seperti biasa. Ibunya atau Omanya atau Ka-chan-nya sudah meninggal tiga tahun lalu, makanya Kirarin ditarik lagi dari Korea—tempat ibunya—ke Jepang. Saat Kirarin masih kecil sekali, orang tuanya memang sudah bercerai dan Kirarin ikut ibunya yang memang orang Korea ke Seoul, tapi ketika ibunya meninggal karena sakit, ia pun ditarik kembali ke Jepang. Di Jepang, ia bertemu kakak kandungnya, Yaotome Hikaru, setelah sempat terpisahkan beberapa tahun akibat perceraian kedua orang tuanya.
Dulu, Hikaru Aniki memang belum terlalu sibuk, makanya mereka selalu punya waktu untuk mengobrol. Hal ini juga yang membuat ia dan Hikaru sangat dekat meskipun umur mereka terpaut lima tahun dan sempat terpisah jarak antara Seoul dan Tokyo. Anikinya itu yang membuatnya terbiasa dengan kehidupan keluarganya di Jepang. Tapi, sekarang, Hikaru menjadi sibuk sekali karena pekerjaannya di Yaotome TV atau Yaotome Group, perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang pertelevisian sekaligus entertainment yang berpusat di Tokyo, Jepang. Jadi, Kirarin tak punya teman ngobrol lagi sekarang, mana Hikaru selalu pulang larut.
“Halooo…” suara itu membuat Kirarin menoleh ke pintu kamarnya, ia berlari menuju pintu kamar yang baru terbuka sedikit itu, agak menjauh sedikit dari pintu itu dan berjongkok di tempat. Di celah pintu itu mencuat sebuah boneka yang mirip sekali dengan Taylor Swift, lengkap dengan rambut pirang keperakan, keriting, matanya yang khas, dan hidungnya yang mancung khas bule. Pemandangan itu jadi menarik karena ditambah dengan suara berat seorang lelaki yang menyanyikan bait lagu yang dipopulerkan oleh Taylor Swift itu.
As you can see that I’m the one who understand you..
Being here all alone so why can’t you see..
You belong with me.. You belong with me..
Ketika lagu You Belong With Me itu selesai, Kirarin segera bertepuk tangan dengan riuh, sambil berteriak-teriak, bersiul, seakan-akan yang menyanyikan lagu tadi adalah seorang Taylor Swift sendiri, yang menyanyikannya khusus untuk seorang Yaotome Kirarin.
“Great! Chuaeyo!“ Kirarin memberi komentar dan setelah itu, pintu kamarnya menjablak terbuka, memperlihatkan siapa yang tadi menyanyikan lagu itu dan siapa yang dari tadi memegangi boneka Taylor Swift itu. Seorang pria dengan jas dan celana bahan, terlihat formal dan rapi, namun wajahnya masih terlihat muda dan tampan tentunya, terlihat berjongkok di depan pintu sambil tersenyum lebar.
“Hello, My Princess—“ panggil Hikaru dengan posisi yang masih tetap dan masih berjongkok, tangannya menggerak-gerakkan boneka Taylor Swift itu.
Kirarin segera memeluk Anikinya yang masih berjongkok sampai-sampai Hikaru terjatuh duduk ke belakang. “Huaaaa.. I love you.. Aishiteru.. Saranghae..”
“Heyyyy…” Hikaru memanggil adiknya, mencoba menyadarkan Kirarin dari kekalapannya, tapi tangannya mengelus-ngelus puncak kepala Kirarin.
“Aku sudah lama tidak bertemu denganmu, Ani-san—“ senyum Kirarin mengembang lebar dalam pelukan erat itu.
“Ohhh.. Oke.. Sebenarnya Ani-san setiap malam mengendap-ngendap ke kamarmu dan mengintipmu ketika sedang tidur.” Hikaru menjawab terus terang. “Kau cantik sekali pas tidur.”
“Kenapa tidak membangunkanku, sih?” Kirarin bertanya manja sambil melepaskan pelukan itu.
“Mana tega aku—“ jawab Hikaru sambil mencubit hidung Kirarin. “Aku pulang jam 2 pagi setiap hari beberapa bulan terakhir ini karena kerepotan menyiapkan konser Taylor Swift di Tokyo dua minggu lagi.”
“Aku sudah dengar, kok, beritanya. Jadi, Taylor Swift benaran datang ke Tokyo?” tanya Kirarin antusias.
“Tentu saja, kalau tidak aku tak mungkin jadi sesibuk ini.” Hikaru tersenyum. “Aku sudah menyiapkan tiket untukmu dan aku untuk menonton bersama.” Hikaru mengeluarkan dua lembar tiket berbentuk kotak vertikal yang di atasnya terdapat gambar Taylor Swift.
“Cuma dua?” Kirarin bertanya dengan nada kecewa.
“Yup.” Hikaru menjawab, berinisiatif untuk bangkit berdiri dan merangkul adiknya yang hanya sebahunya ke tempat tidur. Apa artinya? Artinya saatnya untuk tidur.
“Tolong ambilkan satu lagi, ya, tiket VIP-nya?” pinta Kirarin dengan nada manja. “Please.. Buat Gee satu.”
“Hm? Buat Gee?” Hikaru balik bertanya, dia sudah tahu kalau adiknya mempunyai teman baik bernama Gee dan setiap kali ada konser musik atau acara fan meeting, Kirarin selalu meminta menyiapkan dua tiket untuknya dan Gee.
Tapi, Hikaru pikir yang kali ini, karena Hikaru berkesempatan untuk menemani adiknya, dia tidak perlu membelikan tiket untuk Gee. “Tidak mau berdua saja dengan Ani-san?”
“Aniki! Maunya sama Gee juga!” Kirarin menjawab dengan antusias. “Carikan satu tiket VIP lagi di sebelah tempat duduk kita. Oke?”
“Eh! Jangan coba-coba!” Kirarin memekik, ia tak mau mendengar kata penolakan dari kakaknya, sejujurnya, jika saja Hikaru tidak sibuk sekarang, pasti jawaban dari semua permintaan Kirarin adalah hanya: boleh, tentu saja, tidak mungkin tidak, tidak boleh tidak.
“Oh, Oke..” Hikaru mengangguk-ngangguk. “Tapi tidur dulu. Nanti tidak bisa bangun lagi besok.”
Kirarin ikut mengangguk-ngangguk. “Oke, Bos!” Ia naik ke atas ranjangnya dan Anikinya menyelimutinya dengan selimut bermotif kelinci itu. “Selamat tidur, Kirarin—“
“Ehhh..” Kirarin menghentikan gerakan Hikaru secara tiba-tiba.
“Apa?”
“Password kita! Masa lupa!” cibir Kirarin. Hikaru kemudian segera tersenyum.
“No neun nae. Na neun no ei.” (You’re mine and I’m Yours) kata mereka bersamaan.
Hikaru meninggalkan kamar itu dengan lampunya yang padam.
Passwordnya dengan kakaknya, terkadang membuat Kirarin suka berpikir, apakah kakaknya bisa menjadi miliknya selamanya? Dan benarkah ia bisa menjadi milik kakaknya selamanya? Karena kalau dipikir-pikir, tak ada yang abadi, everything is going to change. Bagaimana kalau kakaknya menemukan seorang lagi yang lebih ia cintai daripada Kirarin dan segalanya di dunia ini ?
-------
Terdengar suara berdecit ketika Gee mengelap piring yang sudah dicuci oleh ibunya itu.
“Gee—“ panggil Takahara Aoi, ayah tiri Gee.
“Emm?”
Telunjuk ayahnya dengan takut-takut menunjuk sudut restoran pinggir jalan milik mereka. Di sana, duduk seorang laki-laki, duduknya membelakangi mereka, sendirian, membungkuk, sebentar-sebentar punggung orang itu naik turun. Jaketnya kelihatan tebal. Memakai topi. Penampilannya serba hitam. Mirip dengan assassin.
“Kenapa?” Ibu Gee ikut-ikutan nimbrung. Matanya mengikuti arah yang sedang ditunjuk oleh telunjuk suaminya. Ketika melihat orang itu, ibunya langsung berkomentar. “Kalau tidak salah, ia sudah berjam-jam lalu duduk di sana.. Tapi, dia sepertinya cool juga, mirip assassin.“
Pikiran Gee dan ibunya sama. Ibunya lalu kembali ke pekerjaannya mencucui piring dan gelas. “Sebentar lagi mau tutup, lebih baik suruh dia pergi.” Ibunya berkata lagi sambil masih tetap menekuni aktivitasnya.
“Gee— Bantu To-Chan menyuruhnya pergi, ya—“ Ayahnya mengulangi perintah ibunya. “Kita harus beres-beres sebentar lagi. Sebelum itu, coba bereskan meja dan kursinya seperti biasa, kalau orang itu belum pergi, baru suruh dia pergi.“
Gee mengangguk-ngangguk. Ia keluar dari kios itu dan membereskan meja dan kursi yang ada di bawah tenda. Restoran itu sudah lumayan sepi, mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia dari tadi membereskan meja dan kursi sambil melirik-lirik sebentar pada orang di sudut restorannya itu, tapi orang itu sama sekali tidak beranjak.
Punggung orang itu naik turun tidak berhenti, semakin lama semakin cepat. Ketika meja dan kursinya sudah beres semua, hanya meja dan kursi orang itu yang belum dibereskannya. Gee dengan sangat hati-hati mendekati meja orang itu. Terlihat satu gelas kopi di atas meja itu.
Hah? Orang ini parah juga! Katanya sudah berjam-jam di sini. Kok pesanannya cuma kopi? Malah tidak habis lagi kopinya! Ckckck…
“Gomen—“ Gee berkata dengan pelan ketika ia mendengar isakan halus dari orang itu. Gee terkesiap, kaget.
“Ada apa?” tanya orang itu. Kasar. Seakan-akan dia yang mempunyai restoran ini. Tapi, masih terdengar isakan pendek dari orang yang misterius itu. Orang itu sepertinya habis menangis.
“Maaf—Kami sudah mau tutup—“ Gee mencoba tersenyum, walaupun orang itu tidak melihat ke arahnya.
“Mau dibayar berapa?”
“Eh?”
“Aku belum mau pergi dari sini. Kau mau dibayar berapa?” Orang itu bertanya dengan nada yang lancang. Sangat lancang.
“Aku tidak perlu uang Anda. Tapi, tolong pergi dari sini—“ Gee berkata dengan cepat sekali.
“Aku memang tidak bawa uang. Tapi—“ Punggungnya naik turun lagi, isakan halus terdengar lagi. “Besok aku akan menyuruh orang—“
“Saya tidak mau uang!” tegas Gee saking kesalnya. “Memang ada ya orang seperti Anda? Sudah kubilang restoran kami mau tutup. Masih tidak mau dengar.”
“Heh!” Orang itu berteriak, menoleh ke arah Gee sekarang. “Kamu tahu tidak saya ini siapa?”
Gee akhirnya melihat tampak depan orang itu. Orang itu memakai pashmina, masker hidung, dan kacamata hitam besar. Benar-benar tampak seperti assassin! Tapi, yang ini, bukan menyeramkan, tapi menyebalkan.
“Saya tidak mau tahu dan tak perlu tahu!” balas Gee dalam bentakan. “Saya, kan, tadi hanya minta Anda pergi dari sini. Tidak meminta uang Anda.”
Orang yang kelihatannya laki-laki itu berdiri, sepertinya siap untuk meledak, tapi sebentar-sebentar, isakannya masih terdengar sedikit-sedikit. “Kalau Anda tidak tahu aku siapa—Sebentar—Aku mengenalmu, kan? Kalau tidak salah—“
Gee dongkol setengah mati. “Sudah ngomong sembarangan, mengaku kenal lagi! Aku tidak mengenali orang sepertimu!”
“Heh! Ingat tidak kalau aku ini orang yang kau tampar tadi!” teriak orang itu dengan keras, tak terdengar isakan lagi di suaranya. “Nih!” Orang itu membuka masker hidungnya. Dan Gee hampir tersungkur ke belakang ketika melihat wajah itu.
Bukan karena wajah itu ternyata adalah Yamada Ryosuke. Tapi, lebih pada kenyataan kalau wajah orang itu memerah, ia yang tadi habis menangis. Sampai kapan pun Gee tak bisa mempercayai kalau seorang Yamada Ryosuke yang bad boy kelas atas bisa menangis. Orang itu kemudian melepas kaca mata hitamnya. “See? Setelah menyiramku, kau menamparku! Gadis kurang—“
-------
Yamada kemudian menyadari apa yang telah ia lakukan. Shit! Ia baru saja mengungkapkan penyamarannya. Padahal mati-matian ia menutupi identitasnya. Tapi, gara-gara terlalu emosi ketika melihat perempuan ini, ia baru saja membuka identitasnya, parahnya dengan bangga, ke publik. Lebih parah lagi, ketika ia sedang menangis.
Jalanan memang sudah tidak begitu ramai. Tapi, tetap saja orang bisa melihatnya! Bukan masalah ia akan diserbu penggemar, itu, sih, sudah biasa, tapi, image-nya!!! Anak-anak Horikoshi bisa menertawakannya. Morimoto Ryutaro tidak akan segan-segan menampilkan seringaian lebarnya. Nakajima Yuto boro-boro akan simpatik, malah dia akan tertawa terpingkal-pingkal melihat seorang Yamada Ryosuke menangis. Personel Hey!Say!7 yang lain hanya bisa tersenyum lebar juga. Dan pihak JUMP, astaga, bisa jadi dia dihukum karena keluar rumah seenak jidat.
Buru-buru. Buru-buru sekali. Yamada menarik gadis itu ke dekatnya. Yamada memeluk gadis itu karena sudah kehabisan akal. Ia membenamkan wajahnya di dalam pelukan gadis itu, agar wajahnya tak perlu kelihatan lagi.
“Bisa diam tidak, sih?” tanya Yamada dalam pelukannya.
“Nanti kalau ke-gap wartawan bagaimana kau memelukku seperti ini?!” tanya Gee histeris. “Akhhh.. Tidak usah muluk!! Ayah dan Ibuku ada di dalam kios! Kau akan dibunuh!”
“Eh. Kalau masuk infotaiment pun, yang untung itu kau! Yang buntung aku!” seru Yamada, suaranya teredam, padahal getaran suaranya bisa lebih dari itu. “Ayah-Ibu mu mana bisa menyerangku!”
Bruk!!! Baru saja Yamada berbicara seperti itu, seseorang memukul kepalanya dari belakang. Yamada merosot, ia merasa pusing, entah benda apa yang telah memukulnya itu. Dalam pelukan itu, ia membawa Gee ikut-ikutan ambruk. Terakhir yang ia tahu, ia jatuh terduduk, dengan tangan yang masih memeluk pinggang Gee.
-------
Gee mendongak ketika dia ikut-ikutan jatuh dan ambruk bersama Yamada. Di belakangnya, ayahnya berdiri sambil mengangkat panci alumunium tinggi. Ibunya berada di samping ayahnya dengan wajah panik dan khawatir.